SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dan Tenaga Kependidikan
Sebanyak 50 guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti workshop bertajuk "Meneguhkan Komitmem untuk Menghadirkan Pelayanan Paripurna". Kegiatan ini berlangsung di Riyadi Palace Hotel, Jl. Slamet Riyadi No. 335, Purwosari, Kec. Laweyan, Solo dan dilaksanakan selama dua hari, Senin- Selasa (22-23/12/2025).
Kepala SD Muhammadiyah PK, Nursalam, menyampaikan kegiatan edukatif ini tidak hanya sekadar transfer teori keilmuan saja, tetapi bagaimana kita langsung mencoba menerapkan ilmu yang didapat dengan keterampilan soft skill dan hard skill yang kita miliki.
"Hari ini, ibaratkan mindset kita seperti gelas kosong yang siap diisi kembali dengan wawasan, ide, kolaborasi pengembangan profesional serta keterampilan menemukan solusi inovatif. Kegiatan ini juga sebagai wadah menemukan dan menyelesaikan tantangan spesifik untuk kemajuan sekolah," terangnya saat memberikan sambutan.
Hadir sebagai narasumber Namin AB Ibnu Solihin founder @motivatorpendidikan.com, ayah lima anak yang konsisten mendidik anak tanpa gadget, bioskop, dan televisi. Kegiatan workshop hari pertama dimulai pada pukul 07.30 - 15.30 WIB, ada dua matari yang dipaparkan narasumber yaitu menjadi guru dan tenaga kependidikan yang menginspirasi, menggerakkan, dan meneladani serta manajemen pengelolaan kelas pembelajaran kreatif dan menggembirakan.
Materi pertama, Namin menjelaskan enam ciri pribadi inspiratif diantaranya (1) kaya akan ide dan kreativitas, (2) memiliki personal branding yang kuat, (3) memiliki karya nyata di mana pun berada, (4) ucapannya mampu menyentuh hati manusia, (5) mencintai ilmu pengetahuan, dan (6) menjalani hidup dengan passion.
Selanjutnya, Namin juga memaparkan enam ciri pribadi menggerakkan yaitu pribadi aktif dan dinamis, terdepan dalam melakukan gerakan perubahan, berjiwa climbers, tegas dalam bersikap dan lembut dalam empati, mampu memggerakkan hati setiap orang, dan menciptakan tantangan hidup.
"Jangan menjadi jiwa yang quiter alias mudah menyerah, atau jiwa yang campers selalu ingin di zono nyama, tetapi jadilah pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki jiwa climbers pantang menyerah yang mampu mengubah hambatan menjadi peluang," pesannya kepada peserta workshop.
Materi pertama ditutup dengan penjelasan enam ciri pribadi meneladani diantaranya (1) perkataan dan perilaku adalah cerminan diri, (2) pelopor dalam melakukan kebaikan, (3) menjaga adab dan perilaku di mana pun berada, (4) memiliki amalan unggulan, (5) menjaga keluarga dari api neraka, dan (6) menjadikan aktivitas sebagai ibadah.
Materi kedua, Namin menjelaskan strategi pembelajaran kreatif dan menyenenangkan yang bisa dilakukan di kelas yaitu penataan ruang kelas, aturan yang jelas, belajar aktif dan partisipatif, umpan balik dan penguatan positif, penggunaan teknologi, dan pengembangan disiplin diri murid.
Selama berlangsungnya workshop sangat menarik dan menggembirakan karena penyampaian materi dari narasumber relevan dengan studi kasus nyata, dinamis, interaktif, membuka peluang tanya jawab serta aktif melibatkan guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah PK.
Workshop hari kedua, diisi dengan dua materi utama yaitu penguatan pendidikan karakter (7 jurus Bimbingan dan Konseling (BK) hebat dan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat) dan service excellent melayani dengan hati. Sebelum penyampain materi dari narasumber, peserta workshop diajak untuk ice breaking memantikkan semangat jiwa climbers.
Dengan gaya yang khas dan senyum merekah, Namin mulai menjelaskan tujuh jurus BK yang telah dicanangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk guru Indonesaia yaitu kenali potensi, kelola emosi, tumbuhkan resiliensi, jaga konsistensi, jalin koneksi, bangun kolaborasi, dan manata situasi.
"Guru BK bukan hanya pengawas pelanggaran, tapi penjaga perasaan. BK hebat bukan soal teknik, tapi juga harus hebat soal hati dan perasaan. Kita semua adalah guru BK yang siap memiliki keterampilan aktif untuk murid, orang tua, dan teman kita," pesan Namin untuk sesi ini.
Tak lupa, Namin juga menjelaskan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat melalui tepukan tangan dan gerakan senam untuk menjaga semangat belajar peserta workshop.
Materi kedua sekaligus menjadi materi penutup rangkaian pelaksanaan workshop. Sesi ini, Namin memaparkan sepuluh karakteristik excellent service diantaranya (1) pelayanan yang ramah, (2) bersikap sopan dan penuh hormat, (3) tampil yakin dan percaya diri, (4) memberikan kesan ceria, (5) berpenampilan rapi, (6) suka bergaul, (7) mudah memaafkan, (8) senang bergaul dengan orang lain, (9) senang dengan hal etis dan wajar, dan (10) pandai menyenangkan orang lain.
Salah satu petugas keamanan sekolah, Kamid Irfai sangat terbantu dengan penjelasan alur pelayanan prima sekolah ramah anak.
"Gerbang sekolah menjadi awal pelayanan prima kita, budaya 3S (senyum, salam, sapa) wajib kita tunjukkan untuk menjalankan standar keramahan yang sama. Semoga kita selalu istikamah mewujudkan pelayanan prima sebagai upaya mempertahakan keyakinan orang tua murid kepada SD Muhammadiyah PK," ucapnya.
